Nama
: Adinda Fajarnindyah
Kelas
: 2PA07
NPM
: 10514263
KESEHATAN
MENTAL#
PENDAHULUAN
Konsep normal
dan abnormal sangat maya, tidak jelas, karena menurut Kartono
kebiasaan-kebiasaan dan sikap hidup dirasakan sebagai normal oleh suatu
kelompok masyarakat, dapat dianggap sebagai abnormal oleh kelompok kebudayaan
lainnya. Seperti halnya apa yang dianggap abnormal oleh beberapa generasi
sebelum kita, bisa jadi dianggap normal oleh generasi saat ini. Namun untuk
menyebut keabnormalan di sekitar kita, terkadang tidak ada keraguan karena
sifat abnormal yang begitu mencolok dan berbeda dengan kenormalan pada umumnya.
Standar dari tingkah laku normal menurut Kartono ialah tingkah laku yang
adekuat (serasi, tepat), yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya yaitu
sikap hidup sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia berada, sehingga
tercapai satu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. Kondisi
zaman yang serba rumit ini semakin menambah tingkat tingkah laku yang abnormal,
dari yang sifatnya rendah sampai abnormal tingkat tinggi. Pribadi yang normal itu menurut Kartono
secara relatif dekat sekali dengan integrasi jasmaniah-rohaniah yang ideal;
kehidupan psikisnya kurang lebih stabil, tidak banyak menendam konflik batin;
tenang, dan jasmaniahnya sehat. Tubuh yang sehat menjaga keseimbangan kita
untuk tetap berada pada kenormalan, sebaliknya tubuh yang tidak sehat (sakit)
semakin terbuka lebar bagi kita untuk masuk keabnormalan. Saran, jaga kesehatan
tubuh, bila ingin disebut normal.
Kartono
menyebutkan perlu kiranya kita mendapatkan konsep yang benar mengenai
pengertian “abnormalitas” yang dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian
tentang :
1.
Perbedaan
antara tingkah laku yang normal dan yang abnormal, antara simpton (gejala)
normal dan yang abnormal.
2.
Hubungan
psikologi-abnormal dengan disiplin ilmu yang bertautan.
3.
Problim-Problim
sosial dan medis yang menyebabkan timbulnya pribadi yang terganggu dan tingkah
laku abnormal.
4.
Klarifikasi
disorder mental/gangguan mental/penyakit mental.
TEORI
Definisi Sehat-Normal
Sehat adalah
suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan
bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau keadaan lemah tertentu.
(Menurut WHO)
Kesehatan mental
adalah penyesuaian manusia terhadap dunia & satu sama lain dengan
keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. Kesehatan mental meliputi kemampuan
menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berempati, dan sikap hidup yang bahagia.
(Seorang psikiater : Karl Menninger).
Kesehatan mental
adalah keadaan yang relatif tetap dimana pribadi menunjukkan penyesuaian atau
mengalami aktualisasi diri. (Psikolog : H.B English).
Kesehatan mental
meliputi semua keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang
lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.
Bebeberapa
rumusan di atas, menekankan normalitas sebagai keadaan sehat, yang secara umum
ditandai dengan keefektifan dalam penyesuaian diri, yakni menjalankan tuntunan
hidup sehari-hari sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.
Beberapa ciri orang yang Sehat-Normal
yakni
1.
Menurut
Maslow dan Mittelmann Maslow dan Mittelmann menyatakan bahwa pribadi yang
normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a.
Memiliki
rasa aman yang tepat (sense of security)
b.
Memiliki
penilaian diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional
c.
Memiliki
spontanitas dan emosional yang tepat.
d.
Memiliki
kontak dengan realitas secara efisien.
e.
Memiliki
dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat.
f.
Memiliki
pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.
g.
Memiliki
tujuan hidup yang adekuat, tujuan hidup yang realistis, yang didukung oleh
potensi.
h.
Mampu
belajar dari pengalaman hidupnya.
i.
Sanggup
untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya.
j.
Ada
sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya.
k.
Kepribadiannya
terintegrasi
2.
Kriteria
Pribadi yang normal menurut W.F. Maramis. Menurut Maramis, terdapat enam
kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan ciri-ciri pribadi yang
Sehat-Normal, adalah sebagai berikut :
a.
Sikap
terhadap diri sendiri : menerima dirinya sendiri, identitas diri yang memadai,
serta penilaian yang realistis terhadap kemampuannya.
b.
Cerapan
(persepsi) terhadap kenyataan : mempunyai pandangan yang realistis tentang diri
sendiri dan lingkungannya.
c.
Integrasi:
kesatuan kepribadian, bebas dari konflik pribadi yang melumpuhkan dan memiliki
daya tahan yang baik terhadap stres.
d.
Kemampuan
: memiliki kemampuan dasar secara fisik, intelektual, emosional, dan sosial
sehingga mampu mengatasi berbagai masalah.
e.
Otonomi
: memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memadai, bertanggung jawab, mampu
mengarahkan dirinya pada tujuan hidup.
f.
Perkembangan
dan perwujudan dirinya : kecenderungan pada kematangan yang makin tinggi.
Defini Abnormal
Abnormal artinya
menyimpang dari yang normal. Yang normal itu yang bagaimana? Bilamana gejala
jiwa atau perilaku dinyatakan normal? Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk
dijawab sebab manusia merupakan makhluk multi dimensional. Manusia merupakan
makhluk biologis, makhluk individu, makhluk sosial, makhluk etis, dst, sehingga
perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi tersebut, begitu juga
bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa.
Kriteria Abnormal
a. Abnormalitas
menurut Konsepsi Statistik Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai
abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Dengan demikian seorang yang jenius
sama- sama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi
abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur.
b. Abnormal
menurut Konsepsi Patologis Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu
dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom (tanda-tanda) klinis
tertentu, misalnya ilusi, halusinasi, obsesi, fobia, dst. Sebaliknya individu
yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah
individu yang normal.
c. Abnormal
menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan
penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang
dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki
jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi masalah dirinya menunjukkan
kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak
terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga
dinyatakan jiwanya tidak normal.
d. Abnormal
menurut Konsepsi Penderitaan/tekanan Pribadi Perilaku dianggap abnormal jika
hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. Tidak semua
gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau
melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. Juga
tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang
yang sakit karena disuntik. Kriteria ini bersifat subjektif karena susah
untuk menentukan standar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan
secara umum.
e. Perilaku
berbahaya, Perilaku yang menimbulkan bahaya bagi orang itu sendiri ataupun
orang lain dapat dikatakan abnormal.
f. Abnormalitas
menurut Konsepsi Sosio-kultural Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan
penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang
dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki
jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan
kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak
terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga
dinyatakan jiwanya tidak normal
g. Abnormalitas
menurut Konsepsi Kematangan Pribadi Menurut konsepsi kematangan pribadi,
seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan
pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat
perkembangannya.
h. Disability
(tidak stabil) Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai
tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba
dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami
kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan. Tidak
begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability.
Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan
kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan
hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam
masalah seksual.
Dari semua
kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan.
Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari
perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat
menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial
menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan
dipengaruhi oleh budaya serta waktu.
ANALISIS
Samantha Hancox,
40 tahun, warga negara Inggris, meninggal karena ketakutan berlebihan terhadap
bakteri. Selama 18 tahun terakhir, ia hanya sekali meninggalkan rumahnya karena
takut terpapar bakteri. Dalam sehari, Samantha menghabiskan 20 jam untuk mandi
dan membersihkan tubuhnya dari bakteri. Puncak ketakutannya terjadi saat ia
takut bakteri akan menyebar melalui makanan dan minumannya. Akhirnya ia
meninggal karena dehidrasi dan infeksi kulit (akibat terlalu sering menggosok
tubuh). Rasa takut bisa berbahaya bila berlebihan.
Pembahasan
Namun bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan Samantha ? Apakah perilakunya normal atau abnormal ?
Mari kita gunakan pendekatan-pendekatan berikut ini dalam menganalisanya.
Namun bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan Samantha ? Apakah perilakunya normal atau abnormal ?
Mari kita gunakan pendekatan-pendekatan berikut ini dalam menganalisanya.
a. Pendekatan Statistik
Pendekatan ini beranggapan bahwa orang yang sehat
secara mental/normal adalah orang yang melakukan tingkah laku yang umumnya
dilakukan oleh banyak orang lainnya. Atau dengan kata lain, suatu tingkah laku
disebut sehat bila tingkah laku tersebut memiliki frekuensi kemunculan yang
tinggi dalam populasi. Sebaliknya, orang yang bertingkah laku tidak seperti
tingkah laku kebanyakan orang dianggap sebagai orang yang tidak normal atau
tidak sehat.
Menurut pendekatan ini bisa kita simpulkan bahwa
Samantha memiliki perilaku abnormal, karena tingkah laku yang dia lakukan tidak
lazim dilakukan oleh kebanyakan orang.
b. Pendekatan Normatif
Pendekatan ini melihat orang secara sehat mental
apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma sosial yang berlaku
dimasyarakat ataukah tidak. Tolak ukur yang dipakai dalam pendekatan ini adalah
norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
Menurut masyarakat umum, perilaku yang ditampilkan
oleh Samantha di luar batas logika manusia. Norma yang berlaku dimasyarakat
selalu memandang sesuatu berdasarkan sikap kepantasan dan kewajaran.
c. Pendekatan Distress Subjektif
Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau
sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang
menggangunya.
Kelemahan pendekatan ini adalah karena menekankan pada
subjektifitas individu mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga
semuanya menjadi serba relatif. Tergantung situasi yang dihadapi.
Menurut pendekatan ini, perilaku yang ditampilkan
Samantha adalah perilaku abnormal karena ia beranggapan bahwa bakteri-bakteri
akan menyebar ketubuhnya
d. Pendekatan Fungsi/Peranan Sosial
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya
seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan
hariannya. Orang dianggap sehat atau normal bila dia mampu menjalankan fungsi
dan peranannya dalam masyarakat dan tidak mengalami gangguan dalam menjalankan
tugas-tugas hariannya.
Bisa dikatakan bahwa Samantha terganggu dengan
"kelebihan" yang dia punya dalam menjalani hari-harinya.
e. Pendekatan Interpersonal
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya
seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuaikan diri dilihat
berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang interpersonal
dengan orang lain.
Samantha memiliki dunianya sendiri yang membuat dia
tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dari uraian diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa secara garis besar
dengan menggunakan beberapa pendekatan, Samantha tergolong dalam perilaku
abnormal. Abnormal disini bisa dikatakan karena dia mempunyai "dunia
sendiri" dan perilaku yang ditampilkannya juga berbeda dari kebanyakan
orang.
DAFTAR PUSTAKA
Supratiknya, 1995, Pengenal Perilaku Abnormal, Yogyakarta : Kanisius
Sutardjo A. Wiramihardja, 2005, Pengantar Psikologi Abnormal, Bandung :
Refika Aditama
Jeffrey S. Nevid, dkk, 2005, Psikologi Abnormal, Edisi Kelima, Jilid
I, Jakarta : Airlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar