A.
Etika Penelitian
Psikologi dengan Bantuan Internet
Etika
Penelitian internet adalah seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan
penggunaan komputer. Etika berasal dari 2 suku kata yaitu etika (bahasa
Yunani: ethos) adalah adat istiadat atau kebiasaan yang baik dalam individu,
kelompok maupun masyarakat dan komputer (bahasa Inggris: to compute) merupakan
alat yang digunakan untuk menghitung dan mengolah data. Jumlah interaksi
manusia dengan komputer yang terus meningkat dari waktu ke waktu membuat etika
komputer menjadi suatu peraturan dasar yang harus dipahami oleh masyarakat
luas.
Maka itu
Dengan kemajuanya teknologi di jaman sekarang seseorang bisa melakukan
penelitian lebih mudah dengan adanya “Internet” . Etika penelitian dengan
bantuan internet berkaitan dengan “benar” atau “salah” dalam melakukan
penelitian. Seorang peneliti dalam hal ini perlu memperhitungkan apakah
penelitiannya layak atau tak layak untuk dilakukan.
Dalam dunia
elektronik pun khususnya media internet kita memiliki hak dan tanggung jawab
atas apa yang telah kita publikasikan. Semua diatur dalam Pasal ITE.
Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) no. 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi
elektronik (Undang-undang ITE ) yang menyatakan bahwa informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum
yang sah.
Dalam
perkembangan zaman sekrang dunia maya sangat pamor untuk kalangan anak remaja,
apalagi saling ada nya komentar dalam suatu status yang mereka buat, terkadang
dalam dunia sosial tersebut menimbulkan suatu luapan emosi yang kita rasakan
dan langsung kita update kan di jaringan sosial, di karena kan jaringan sosial
merupakan suatu hal yang publik dan bisa di baca ke semua orang, mungkin dari
pihak lain tersingung sehingga adanya suatu perseteruan antara pembuat status
dan yang mengkomen status tersebut , hal terbesebut merupakan pelanggaran
jaringan social sehingga adanya dari pihak jaringan tersebut memberikan suatu
fasilitas untuk memblokir orang yang mengkomen atau menghapus suatu status
tersebut , sehingga tidak muncul kembali suatu percakapan yang tidak layak di
lihat oleh penguna jaringan sosial lain nya.
Hal tersebut
merupakan suatu contoh pelangaran dalam jaringan sosial dan orang yang tadi
melakukan suatu perseturuan harus ada nya Etika dalam mengunakan Internet .
Adanya
peraturan yang harus dilakukan dalam etika penelitian dalam Internet
1.
Menghormati martabat
subjek penelitian : Penelitian yang dilakukan harus manjunjung
tinggi martabat seseorang (subjek penelitian). Dalam melakukan penelitian, hak
asasi subjek harus dihargai.
2.
Asas kemanfaatan :
Penelitian yang dilakukan harus mepertimbangkan manfaat dan resiko yang mungkin
terjadi. Penelitian boleh dilakukan apabila manfaat yang diperoleh lebih besar
daripada resiko/dampak negatif yang akan terjadi. Selain itu, penelitian yang
dilakukan tidak boleh membahayakan dan harus menjaga kesejahteraan manusia.
3.
Berkeadilan
: Dalam melakukan penelitian, setiap orang diberlakukan sama berdasar
moral, martabat, dan hak asasi manusia. Hak dan kewajiban peneliti maupun
subjek juga harus seimbang.
4.
Informed consent
: merupakan pernyataan kesediaan dari subjek penelitian untuk diambil
datanya dan ikut serta dalam penelitian. Aspek utama informed consent yaitu
informasi, komprehensif, dan volunterness. Dalam informed consent harus ada
penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan. Baik mengenai tujuan
penelitian, tatacara penelitian, manfaat yang akan diperoleh, resiko yang
mungkin terjadi, dan adanya pilihan bahwa subjek penelitian dapat menarik diri
kapan saja.
Dan dalam Penelitian yang dilakukan harus menghargai kebebasan individual
untuk bertindak sebagai responden atau subjek penelitian dalam melakukan survey
di internet. Responden harus dijamin dan dilindungi karena pengambilan data
dalam penelitian akan menyinggung ke arah hak asasi manusia. Meskipun suatu
penelitian sangat bermanfaat namun apabila melanggar etika penelitian maka
penelitian tersebut tidak boleh dilaksanakan.
Dalam melakukan sebuah penelitian percobaan, terdapat etika dan
aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh peneliti karena menyangkut kebebasan
dan hak asasi subjek penelitian, yaitu :
·
Norma Sopan-santun
Peneliti memperhatikan konvensi dan kebiasaan dalam
tatanan di masyarakat.
Misal ketika kita mengambil data atau informasi dari
web orang lain, kita harus minta ijin terlebih dahulu atau bisa juga dengan
mencantumkan alamat halaman website.
·
Norma Hukum
Pentingnya mencantumkan sumber yang jelas, sebab Bila
terjadi pelanggaran maka Peneliti akan dikenakan sanksi.
·
Norma Moral
Peneliti mempunyai itikad dan kesadaran yang baik dan
jujur dalam penelitian. Data yang di ambil harus objektif tidak boleh di
rekayasa
Beberapa alasan mengenai pentingnya etika dalam dunia
internet adalah sebagai berikut:
a.
Pengguna internet
merupakan orang-orang yang hidup dalam dunia yang tidak mengharuskan pernyataan
identitas asli dalam berinteraksi.
b.
Bahwa pengguna
internet berasal dari berbagai negara yang mungkin memiliki budaya, bahasa dan
adat istiadat yang berbeda-beda.
c.
Harus diperhatikan bahwa
pengguna internet akan selalu bertambah setiap saat dan memungkinkan masuknya
“penghuni” baru didunia maya tersebut.
B.
Berbagai Hasil
Penelitian dan Teknik Penelitian Online
1.
Komputer dan Internet
Mengubah Ingatan Manusia
Komputer dan internet mengubah sifat ingatan manusia, demikian kesimpulan
penelitian yang dimuat di majalah Science. Penelitian psikologi menunjukkan
bahwa jika seseorang diajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, mereka akan
memikirkan computer.
Ketika mereka mengetahui bahwa berbagai
fakta nantinya akan didapat lewat komputer maka ingatan mereka menjadi tidak
begitu baik karena mereka mengetahui dapat mengandalkan sumber lain.
Para peneliti mengatakan internet
bertindak sebagai “ingatan transaktif”.Penulis laporan Betsy Sparrow dari Universitas
Columbia mengatakan ingatan transaktif “adalah ide adanya sumber ingatan
luar-tempat penyimpanan di pihak lain”.”Ada ahli-ahli hal tertentu dan kita
membiarkan mereka bertanggung jawab atas informasi tersebut,” katanya.
Penulis lain laporan Daniel Wegner, yang
pertama kali mengusulkan konsep ingatan transaktif dalam bab sebuah buku
berjudul Ketergantungan Kognitif pada Hubungan Dekat, menemukan pasangan yang
sudah lama hidup bersama saling membantu saat mengingat sesuatu.
“Saya berpikir internet menjadi sebuah
bentuk ingatan transaktif dan saya ingin mengujinya,” kata Dr Sparrow.
Di mana, bukan apa Bagian pertama
pengkajian adalah menguji apakah peserta penelitian “langsung” memikirkan
komputer dan internet begitu diajukan pertanyaan sulit. Tim menggunakan tes
Stroop yang dimodifikasi.
Tes Stroop standar mengukur berapa lama
waktu yang diperlukan partisipan untuk membaca sebuah kata warna sementara kata
tersebut berbeda warna, misalnya kata “hijau” ditulis dengan warna biru. Waktu
reaksi meningkat ketika, bukannya kata warna, para partisipan ditanyakan untuk
membaca kata-kata tentang topik yang kemungkinan sudah ada dalam pikiran.
Dengan cara ini tim peneliti menunjukkan bahwa, setelah diberikan topik dengan
jawaban ya/tidak, waktu reaksi terhadap istilah yang terkait dengan internet
sangat lebih lama. Ini adalah sebuah isyarat partisipan tidak mengetahui
jawaban, dan mereka sudah mempertimbangkan untuk menjawab dengan menggunakan
komputer.
Dalam percobaan lebih mendalam para
peserta penelitian diberikan serangkaian fakta. Setengahnya diminta
menyimpannya pada sejumlah folder di komputer, setengahnya diberitahu bahwa
fakta-fakta tersebut akan dihapus. Ketika diminta untuk mengingat fakta tadi,
kelompok yang mengetahui informasi tidak akan didapat lagi menunjukkan kinerja
yang sangat lebih baik dibandingkan kelompok yang menyimpan fakta dalam berkas
di komputer.
Tetapi kelompok yang mengharapkan
informasi tersebut akan didapat nantinya, sangat bagus ingatannya dalam
mengingat folder tempat penyimpanan informasi. ”Ini mengisyaratkan bahwa dalam
kaitan dengan berbagai hal yang bisa kita dapatkan di internet, kita cenderung
menempatkan ingatan online kita cenderung menyimpannya di luar,” kata Dr
Sparrow.
Dia mengatakan kecenderungan partisipan
untuk mengingat lokasi informasi, bukannya informasi itu sendiri, merupakan
isyarat orang semakin tidak bisa mengingat sesuatu, mereka hanya mengatur
penempatan informasi dalam jumlah besar agar nantinya mudah didapat.
“Saya tidak menganggap Google membuat
kita bodoh, kita hanya mengubah cara mengingat. Jika kita bisa mendapatkannya
di internet meskipun sedang berjalan-jalan, maka ketrampilan yang diperlukan,
yang perlu diingat adalah ke mana harus mendapatkan informasi. Sama seperti
dalam kaitannya dengan orang,ketrampilan yang diperlukan adalah mengingat siapa
yang perlu ditemui (untuk mengetahui hal tertentu),” katanya.
Bagian pertama pengkajian adalah menguji
apakah peserta penelitian “langsung” memikirkan komputer dan internet begitu
diajukan pertanyaan sulit. Tim menggunakan tes Stroop yang dimodifikasi.
Tes Stroop standar mengukur berapa lama
waktu yang diperlukan partisipan untuk membaca sebuah kata warna sementara kata
tersebut berbeda warna, misalnya kata “hijau” ditulis dengan warna biru. Waktu
reaksi meningkat ketika, bukannya kata warna, para partisipan ditanyakan untuk
membaca kata-kata tentang topik yang kemungkinan sudah ada dalam pikiran.
Dengan cara ini tim peneliti menunjukkan bahwa, setelah diberikan topik dengan
jawaban ya/tidak, waktu reaksi terhadap istilah yang terkait dengan internet
sangat lebih lama. Ini adalah sebuah isyarat partisipan tidak mengetahui
jawaban, dan mereka sudah mempertimbangkan untuk menjawab dengan menggunakan
komputer.
Dalam percobaan lebih mendalam para
peserta penelitian diberikan serangkaian fakta. Setengahnya diminta
menyimpannya pada sejumlah folder di komputer, setengahnya
diberitahu bahwa fakta-fakta tersebut akan dihapus. Ketika diminta untuk
mengingat fakta tadi, kelompok yang mengetahui informasi tidak akan didapat
lagi menunjukkan kinerja yang sangat lebih baik dibandingkan kelompok yang
menyimpan fakta dalam berkas di komputer.
Tetapi kelompok yang mengharapkan
informasi tersebut akan didapat nantinya, sangat bagus ingatannya dalam
mengingat folder tempat penyimpanan informasi. “Ini
mengisyaratkan bahwa dalam kaitan dengan berbagai hal yang bisa kita dapatkan
di internet, kita cenderung menempatkan ingatan online kita cenderung
menyimpannya di luar,” kata Dr Sparrow.
Dia mengatakan kecenderungan partisipan
untuk mengingat lokasi informasi, bukannya informasi itu sendiri, merupakan
isyarat orang semakin tidak bisa mengingat sesuatu, mereka hanya mengatur
penempatan informasi dalam jumlah besar agar nantinya mudah didapat.
“Saya tidak menganggap Google membuat
kita bodoh, kita hanya mengubah cara mengingat. Jika kita bisa mendapatkannya
di internet meskipun sedang berjalan-jalan, maka ketrampilan yang diperlukan,
yang perlu diingat adalah ke mana harus mendapatkan informasi. Sama seperti
dalam kaitannya dengan orang, ketrampilan yang diperlukan adalah mengingat
siapa yang perlu ditemui (untuk mengetahui hal tertentu),” katanya.
2.
Efek Psikologis Facebook bagi Kesehatan Mental
Beberapa waktu lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan
Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, misalnya Anda mengubah status
lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. Anda
juga rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari meski ia tidak
mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.
Laporan terbaru dari The Daily Mail
menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook atau MySpace juga
bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri.
Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan
respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental.
Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring
sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama
atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan Anda saat ini.
Suatu hubungan mulai menjadi kering
ketika para individunya tak lagi menghadiri sosial gathering, menghindari
pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama
menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan
rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya.
Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam
dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang
baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam
berkomunikasi secara face-to-face. Perilaku ini dapat meningkatkan risiko
kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia
(kepikunan), demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang
dirilis oleh The Institute of Biology.
Pertemuan secara face-to-face memiliki
pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon
seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi
berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk
gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres,
beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang
dilakukan seseorang dengan yang lain.
Menurutnya, media elektronik juga
menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa
muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. “Salah satu
perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk
Inggris adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit
per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada
orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat.”
Kerusakan fisik juga sangat mungkin
terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam
setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit
punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang
menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer. Jika pada malam hari
Anda masih sibuk mengomentari status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu
tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk
berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan.
Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang
berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik
yang lemah, bahkan obesitas.
Tidak heran jika Dr Sigman
mengkhawatirkan arah dari masalah ini. “Situs jejaring sosial seharusnya dapat
menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun yang kami temukan sangat
berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat
meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah,”
tegasnya.
Namun, bila aktivitas
Facebook Anda masih sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign
out, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena risiko kanker, stroke,
bahkan menderita pikun.
C.
Teknik Penelitian
Online
Internet merupakan salah satu agen yang makin mempermudah penggandaan suatu
karya cipta terutama yang dipasang di internet. Berikut ini format pengutipan
dan Teknik penelitian sumber-sumber online :
1. FTP (File Transfer Protocol)
Cara penulisan kutipan lewat File
Transfer Protocol adalah sebagai berikut.
Ø Sertakan nama pengarang (jika ada) dengan nama belakang terlebih dahulu;
judul lengkap; tanggal dokumen; protokol yang digunakan (dalam hal ini ftp)
berikut alamatnya; tanggal akses.
Ø Contoh: Johnson-Eilola, Johndan., “Little Machines: Rearticulating
Hypertext User.” 3 Dec. 1994, ftp://ftp.daedalus.com/pub/CCCC95/johnson-eilola,
(14 Aug 1996).
2. HTTP (HyperText Transfer Protocol)
WWW Sites (World Wide Web). Cara
penulisan kutipan lewat File HyperText Transfer Protocol adalah sebagai
berikut.
Ø Sertakan nama pengarang (jika ada) dengan nama belakang terlebih dahulu;
judul lengkap dalam tanda petik; tanggal dokumen; protokol yang digunakan
(dalam hal ini http) berikut alamat URL-nya; dan tanggal akses.
Ø Contoh: Burka, Lauren P, “A Hypertext History of Multi-User Dimensions.”,
MUD History. 1993, http://www.utopia.com/talent/ipb/muddex/essay, (2 Aug. 1996).
3. Telnet Sites Telnet Sites (Sites and Files available via the telnet
protocol).
Cara penulisan kutipan lewat telnet sites
adalah sebagai berikut.
Ø Sertakan nama pengarang, dengan nama belakang terlebih dahulu; judul
karangan dalam tanda petik; nama situs telnet dalam huruf italic; dan tanggal
publikasi.
4. Gopher
Untuk mengutip lewat situs gopher Anda
dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
Ø Sertakan nama pengarang (jika ada) dengan nama belakang terlebih dahulu;
judul lengkap dalam tanda petik; tanggal dokumen jika ada; protokol dokumen
yang digunakan (dalam hal ini gopher) berikut alamatnya; tanggal akses; dand
direktori gopher tersebut. Contoh: African National Congress; “Human Rights
Update for Week No. 10 from 5/3/96 to 11/3/97.”; gopher://gopher.anc.org.za:70/00/hrc/1997/hrup97.10;
(1 Jan. 1997).
5. Email, Listerv, dan Newsgroup
Untuk mengutip lewat mailing list Anda
dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
Ø Sertakan nama pengarang (jika ada) atau alamat e-mail-nya; judul yang ada
dalam Subject dalam tanda kutip; tanggal pesan jika berbeda dengan tanggal
akses; nama mailing list (jika ada) dalam huruf italic; alamat milis atau
protokol; tanggal akses dalam tanda kurung.
Ø Contoh: Crump, Eric, “Re: Preserving Writing.”, Alliance for Computers and
Writing, Listerv, acwl@unicorn.acs.ttu.edu, (31 Mar. 1995).
6. Publikasi Elektronik dan Database Online
Untuk mengutip lewat publikasi elektronik
atau database online Anda dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
Ø Sertakan nama pengarang; judul artikel dalam tanda kutip; judul publikasi
software dalam huruf italic; versi atau nomor edisi; nama database atau layanan
online dalam huruf italic; tanggal akses.
Ø Contoh: Christopher, Warren, “Working to Ensure a Secure and Comprehensive
Peace in the Artikel Populer IlmuKomputer.Com Copyright © 2008 IlmuKomputer.Com
7.
Software Program
Microsoft dan Video Games Program, Software dan Video Game
Untuk mengutip
lewat software atau program Anda dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
Ø Nama pengarang atau produsennya (jika ada); judul program atau software
dalam huruf italic; nomor versi (jika ada dan belum dicantumkan dalam judul
software); informasi terbitan lainnya seperti tanggal (jika ada).
Ø Contoh: ID Software, The Ultimate Doom, New York: GT Interactive Software,1995.
D.
Kesimpulan
Etika dalam penelitian merupakan sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai
piranti sekaligus pedoman untuk menghindari kegagalan dalam penelitian. Etika
yang dimaksud baik yang berkenaan dengan etika ilmiah maupun etika sosial. Mengedepankan
etika sebagai sumber kepatutan dalam penelitian tidak lepas dari esensi
kegiatan penelitian itu sendiri yaitu untuk menemukan kebenaran dan kemudian
mengkontruks kebenaran itu menjadi sebuah teori.
DAFTAR PUSTAKA
Kinerja Team
NPM
|
NAMA
|
JOBDESK
|
LINK
|
10514263
|
Adinda Fajarnindyah
|
Editor
|
|
11514407
|
Annisa Windra Septiva
|
Typing
|
|
12514246
|
Bunga Anugrah Gusti
|
Typing
|
|
15514785
|
Kartika Iasyah
|
Typing
|
|
17514749
|
Nadira Raycha
|
Searching
|
|
18514141
|
Nur Andyni
|
Searching
|
Informasi yang dipaparkan sudah cukup jelas dan menarik. Terimakasih
BalasHapusMenurut saya, materinya sangat jelas dan sangat bermanfaat. Terimakasih
BalasHapussangat lengkap terimakasih
BalasHapusMaterinya sangat lengkap dan cukup membantu, terimakasih
BalasHapusterima kasih ilmunya
BalasHapussebagai mahasiswa kita harus mempunyai etika tidak asal sembarang untuk melakukan sesuatu terutama dibidang penelitian
BalasHapus